Cara mendapatkan ide penelitian

Tanpa niat menggurui melainkan ingin berbagi pengalaman mungkin bermanfaat bagi orang lain....

Mahasiswa sering bertanya bagaimana mendapatkan ide penelitian? Maka sering saya jawab :
Pada prinsipnya penelitian itu tidak mengulang yang sudah ada kecuali dengan alasan ilmiah untuk mengkonfirmasi atau membuktikan keraguan terhadap temuan sebelumnya. Harus ada sesuatu yang baru (novelty) walaupun tidak semuanya baru.

Ide penelitian dapat timbul ;
(1) membaca karya orang lain baik dalam bentuk jurnal, disertai, thesis atau sejenis laporan penelitian. Mungkin ada parameter yg belum lengkap mereka teliti, belum mereka bandingkan dengan yang lain, perbedaan lokasi penelitian mungkin menghasilkan temuan yg berbeda. Contoh: Setelah membaca artikel jurnal oleh Sufia dkk (2016) tentang kearifan lokal dlm melestarikan lingkungan di Kab Banyuwangi, timbul ide meneliti kearifan lokal dlm mitigasi bencana tsunami di Kab. Simeulue.

(2) mempelajari teori tertentu dan ingin membandingkan dengan kenyataan yg ada di lapangan. Secara teori program PLPG guru akan meningkatkan profesionalisme guru dan berdampak pada peningkatan prestasi belajar siswa tapi apa demikian yg terjadi di lapangan? Secara teori tumbuhan menyerap mineral dalam bentuk ion terlarut, timbul ide meneliti kelarutan pupuk magnesium yg dijual ke masyarakat.

(3) mendengar informasi dari media & seminar ilmiah. Kejadian alam, kondisi masyarakat, atau keluhan-keluhan dapat menjadi inspirasi penelitian. Contoh : muncul nya berita bahwa banyak remaja terlibat narkoba maka memicu ide penelitian untuk mengkaji penyebabnya. Adanya keluhan petani terhadap hama keong emas memunculkan ide penelitian untuk pengendaliannya

(4) mengalami atau mengobservasi langsung. 
Goodyear penemu ban karet secara tidak sengaja melihat karet dalam labnya menjadi keras karena jatuh setetes karet dalam serbuk belerang yang sedang dipanaskannya. Hari berikutnya melihat sudah keras seperti karet ban dalam. Timbul ide meneliti lebih lanjut pengaruh komposisi campuran hingga diperoleh formula yg tepat. Chistiaan Eijkman (1896) mendirita penyakit biri-biri di Semarang mengamati  bahwa ayam yg dia sengaja infeksikan penyakitnya pada ayam itu ternyata ayam yg makan nasi putih (sisa) infeksi berlanjut, yg kebetulan makan beras merah (yang masih banyak kulit padi) sebagian sembuh (infeksi tdk berlanjut), timbul idenya meneliti lebih dalam sehingga menemukan vitamin B1 sebagai anti penyakit biri-biri.
Wallahu'alam


I think that, as life is action and passion, we should share the passion and action of our time at peril of being judged not to have lived at all.