Beralih ke riset berorientasi pasar

Menurut Prof. BJ. Habibie, ada dua pendekatan riset, yaitu mulai dengan penelitian dasar dan kemudian dilanjutkan dengan penelitian terapan hingga  komersialisasi. Pendekatan sebaliknya mulai dengan penelitian terapan melalui  inovasi  dan kembali ke penelitian dasar untuk peningkatan kualitas & daya saing produk. Negara maju seperti Amerika & Eropa mengikuti pola yang pertama karena sumber daya banyak & bebas berkarya. Tetapi mereka kalah cepat dibandingkan Jepang, China & Korea yang memilih pola yang kedua. Produk China kualitasnya kurang baik tapi murah & inovatif. Mereka produksi dengan cara merakit temuan yang sudah ada dengan biaya relatif murah  tanpa banyak waktu  menunggu penelitian dasar, berlanjut dengan penelitian terapan & komersialisasi. Setelah mereka kuasai pasar maka mutu produk ditingkatkan melalui penelitian dasar. Awalnya produk Jepang dianggap berkualitas rendah  tapi saat ini hampir tidak terdengar lagi. Sementara produk Jerman yang terkenal bagus hampir kehilangan pasar. Berhubung banyak dosen lulusan luar negeri sering juga   
orientasi riset terkunci pada berpola yang sama dengan saat menempuh pendidikan S2 & S3. Padahal biasanya pembimbing S2 & S3 tidak menjelaskan bahkan merahasiakan sejauhmana prospek komersial yg mereka kaji. Boleh jadi riset yg dilakukan hanya ranting kecil dari pohon proyek riset yg besar yg berorientasi pasar setelah puluhan tahun. 

Melihat judul-judul penelitian kita mungkin masih banyak yg perlu diarahkan pada prospek komersialnya yg cepat dan pasarnya mudah dicapai. Biasa saja kita mengkaji bahan bakar hidrogen tapi negara maju saja masih perlu puluhan tahun sampai pada komersialisasi. Kita justru tidak fokus pada bhn bahan bakar biomassa yg melimpah yang akan diserap pasar di sekitar kita. Kita memilih mengkaji nano material tapi membiarkan masalah bau limbah pabrik sawit tanpa solusi. Peneliti memilih fokus penelitian pada habitat orangutan hutan membiarkan masalah hama tikus. Kalau institusi hanya mengejar publikasi terindeks Scopus maka sulit rasanya aspek komersial berkembang dari sektor ini bahkan justru menjadi konsumen jasa publikasi dan dana penelitian yg besar hanya berakhir pada aspek filosofis. Walaupun mungkin mhs yg akan datang lebih berkualitas karena ranking institusi naik & memberi kontribusi pada ilmu pengetahuan tapi di mata pemerintah & masyarakat dianggap kurang memberikan kontribusi untuk publik & menyelesaikan permasalahan teknologi. Sebagai alternatif tindak lanjut masalah ini 
Mungkin diperlukan roadmap penelitian institusi yang lebih detail & regulasi pengawalannya yg lebih sistematis terutama terhadap dana penelitian yang bisa dikontrol. Selain itu perlu lokakarya bidang fokus kajian jika perlu di bawah bimbingan pakar. Misalnya institusi bisa mengundang pakar produk olahan sawit untuk mendapatkan prospek bisnis dari produk inovasi turunan olahan sawit bukan pakar sawit yg hanya punya h-index tinggi tetapi pakar yg banyak memegang paten atau praktisi. Kemudian disepakati menjadi topik penelitian. Hal yang sama untuk pala, nilam, kopi, konsultan jasa pelatihan dll.