Manajemen di perguruan tinggi beralih ke manajemen robot 

Terlepas dari stereotype (kesan negatif), birokrasi sangat diperlukan dalam sistem institusi. Siapa dan mengerjakan apa serta prosedur manasaja yang harus diikuti dalam penyelesaian pekerjaan dalam  sebuah institusi merupakan bagian dari birokrasi. Birokrasi dijalankan dalam sistem komando yang teratur dan terukur secara berjenjang yang dikendalikan oleh management yang efektif. Diantara fungsi manajemen yang sering tidak memuaskan adalah fungsi perencanaan dan fungsi pengawasan. Perencanaan yang tidak matang menyebabkan pelayanan publik tidak maksimal. Sebagai contoh, setelah daftar isian proyek anggaran (DIPA) disahkan, perkuliahan dimulai baru disadari kursi kuliah tidak cukup, kipas angin rusak, jaringan air terganggu dll. Sementara perlu waktu untuk merevisi DIPA jika pun itu memungkinkan. Rapat kerja atau Musrenbang sudah dilakukan & sudah ditetapkan oleh kuasa pengguna anggaran, namun masuknya program sangat tergantung pada yg mengetik DIPA. Boleh jadi keputusan final ada pada mereka bukan pada pimpinan tertinggi, karena hasil Musrenbang sering tdk terakomodasi dalam DIPA & lepas dari pengawasan karena buru-buru diusulkan, kurang lengkap syarat adm, revisi mendadak dll. Pimpinan unit berharap bawahannya paham tugasnya, memonitor & mengusulkan kebutuhan secara reguler. Sementara bawahannya merasa tidak ada perintah dari atasan, apalagi kalau pegawai sudah terbiasa bekerja menunggu SK pimpinan. Demikian juga halnya dalam fungsi pengawasan, Pimpinan berasumsi semua karyawan berdisiplin karena sudah ada SOP atau POB untuk dijalankan, sehingga tidak perlu dicurigai. Namun baru disadari setelah terbukti ada penyelewengan tugas dan kewenangan. Pimpinan tertinggi berharap pengawasan dpt berjenjang sampai ke level yg paling bawah. Namun kenyataannya dalam institusi  pemerintah sering tdk efektif termasuk di institusi perguruan tinggi. Penghargaan dan sanksi tidak mudah diterapkan. Berharap pada pimpinan unit mengawasi bawahannya sering kali tdk dilakukan karena dia sendiri tidak disiplin shg tdk ada kewibawaan. Dalam pemberian sanksi saling tolak menolak kewenangan. Kepala sekretariat meminta bawahan memberikan sanksi pada bawahan berikutnya dan terus sampai ke unit terkecil. Di bawah juga tidak berani berikan sanksi, lebih memilih diam karena sering kali juga yg diminta mengawasi juga termasuk yg melanggar aturan, apalagi memberikan atau tidak sanksi juga tidak ada respon dari atasan. Sehingga bisa dimaknai bahwa menajemen konvensional tdk lagi efektif dan saatnya beralih ke perintah mesin (komputer) atau mirip perintah robot sehingga disebut "menejemen robot" untuk tujuan atratif bagi pembaca