Melakukan inovasi tidak harus menunggu pintar

Salah satu Kata kunci dalam pendidikan 4.0 adalah inovasi. Diperkirakan dengan sumber ilmu yg makin mudah dan murah dari internet maka makin banyak orang berpikir kreatif dan kemudian mewujudkannya dalam bentuk inovasi barang dan jasa yang berpotensi komersial. Berinovasi tidak harus menunggu pintar atau lulus dari jenjang pendidikan yang tinggi melainkan membiasakan berpikir kreatif, tekun, sabar dan tahan terhadap kegagalan bahkan cemoohan. Pemikiran inovatif bisa muncul setelah mengalami kesulitan yang pernah dialami. KH As'ad Humam penemu cara cepat membaca Qur'an,  metode iqra' yang terinspirasi tahun 1990-an yang saat itu sukar mengajarkan Al-Qur'an dengan cara mengeja. Contoh lainnya Jack  Ma pendiri alibaba.com salah satu toko online terbesar di dunia terinspirasi membuka toko online karena kesukaran berbelanja di Amerika. Saat belanja susah mendapatkan tempat parkir, jalan macet, membawa uang kontan kurang aman dll, kadang-kadang lebih mahal ongkos pergi berbelanja dari pada nilai belanja yg dibeli. Sedangkan Thomas Lipton memikirkan bagaimana agar membuat minuman teh lebih mudah. Tidak perlu disaring, sekali pakai buang, maka jadilah Lipton teh back, sejenisnya teh kotak. Mereka semua bukan ilmuan yang relatif berpendidikan tinggi, tetapi mereka berpikir bagaimana melakukan sesuatu yang baru dan berbeda dari biasanya  dan memiliki keunggulan. 
Menurut Paul Sloane (penulis buku inovatif leader); Inovasi dapat muncul dengan memodifikasi produk yang ada dengan tambahan atau pengurangan sehingga menjadi lebih kompetitif. Sebagai contoh produk "gulaku" membuat kemasan gula lebih bagus dan ada resep masakan pada kemasannya. Ide dapat juga didapat dengan cara meminta saran perbaikan dari teman atau calon pelanggan untuk perbaikan. Tidak jarang dengan mengamati suatu produk dapat diperkirakan apa yang hrs dilakukan. Misalnya banyak wanita pengendara motor menggunakan jaket untuk menghindari tangan mereka kena matahari, maka diciptakanlah sarung tangan motor yang melekat pada stang. Selain itu dapat pula membuka daftar paten sehingga produk yang dihasilkan terdapat perbedaan dengan produk yang sudah dipatenkan. Dengan teknologi digital saat ini teknik memunculkan ide ini dapat dilakukan dengan mudah asalkan punya kemampuan literasi data yang tinggi. Suatu produk sebelum dijual dapat dilakukan uji respon calon pelanggan melalui media sosial terutama bentuk fisiknya dan kemudian disempurnakan dan akhirnya dijual.

Seorang dapat saja mendapatkan ide dengan mendengarkan  dan memperhatikan keluhan tersebut keadaan tertentu. Misalnya setelah memakai mantel hujan ternyata report menyimpannya maka muncul ide menciptakan mantel pakai buang. Mereka yang mengeluh selalu lupa pada tanggal undangan, maka dpt diciptakan undangan versi WA yang dapat diketik sekali untuk ratusan alamat apalagi kalau dilengkapi dengan GPS tempat acara & remainder. 

Pembiasaan mhs dengan ide kreatif dan penciptaan produk inovatif  kiranya dapat dilakukan sebagai bagian dari pembelajaran dalam kelas reguler atau workshop yang terencana, akuntabel dan diurus secara khusus. Kreativitas tidak terbatas pada ilmu  tertentu, sehingga mereka bebas bergabung dari berbagai bidang apa pun ilmunya asalkan mereka harus dapat menciptakan barang atau jasa yang inovatif (baru, tidak harus canggih & tdk harus sesuai program studi mereka) baik pada taraf disain, prototipe, barang jadi, sudah diuji coba maupun sudah dipromosikan. Waallahua'lam.