Apa dan bagaimana SCL (Student Center Learning)?


Istilah "kuliah" di perguruan tinggi berkonotasi satu arah sehingga mahasiswa dominan hanya mendengar, dosen adalah sumber ilmu yg tidak terbatas, ilmunya selalu terupdate dan tidak terbantahkan. Model pembelajaran yang seperti ini dikenal dengan  istilah teacher centered learning. Hal itu sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Ilmu berkembang pesat sementara dosen terbatas waktu untuk mengikutinya. Sehingga sikap yg bijak ialah menggerakkan mahasiswa lebih aktif dalam pembelajaran termasuk mencari sumber ilmu, ide-ide kreatif & inovatif termasuk mencoba hal baru, memodifikasi yg sudah ada dengan sesuatu yg lebih unggul (lebih indah, lucu, multiguna, ramah lingkungan, lebih praktis, dll). Model pembelajaran yg terakhir ini termasuk SCL (student centered learning) atau sebutan lainnya model pembelajaran aktif. Banyak model pembelajaran aktif  diantaranya PBL, PjBL, STEM, studi kasus, debat, inkuiri, dll tapi tdk perlu kaku dengan pada satu model intinya bagaimana cara mhs lebih aktif belajar, yg mereka pelajari merasa bermakna, tahu cara mencari sumber ilmu pengetahuan secara ilmiah, terampil sesuai dengan tujuan pembelajaran & terbina softskill/kharakter. Kekhawatiran dan keengganan melaksakannya biasanya karena beberapa alasan termasuk tidak cukup waktu, khawatir tidak terpenuhi kurikulum, tidak ada biaya, susah persiapannya, tidak tau caranya.

Penerapan SCL harus didukung oleh lingkungan belajar yang kondusif walaupun tidak harus menunggu sempurna. Jumlah mhs per kelas sebaiknya tidak lebih dari 30 orang agar mudah dikelola. Tujuan & target pembelajaran sudah dirumuskan dengan jelas. Di awal perkuliahan, Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) harus dirancang oleh dosen sedemikian rupa sehingga jelas apa luaran dari tugas yg harus dilakukan oleh mahasiswa, apa permasalahan yg harus mereka selesaikan, kapan target waktu penyelesaian dan bagaimana kinerja mereka dinilai. Demikian juga peran masing-masing anggota kelompok mhs hrs jelas agar semua berkontribusi dan bertanggung jawab. Kelompok paling yg efektif tdk lebih dari 5 org. Tidak semua tugas mereka kerjakan di kelas melainkan dapat dilakukan di lab, di pustaka, di lapangan atau di rumah. Pertemuan di kelas lebih banyak untuk diskusi rencana, monitoring & evaluasi hasil kerja mereka. 

Mata kuliah yg sangat teoritis seperti mekanika kuantum, memang sangat sukar untuk mengaktifkan mhs. Dosen biasanya menghabiskan waktu menurunkan rumus di papan tulis, mhs bengong hampir tdk pernah bertanya bahkan mungkin hanya asyik main hp saja. Karena mereka gagal fokus, maka walaupun ada latihan & PR sering kali kurang efektif apalagi bagi mhs yg suka menyalin dari saja dari PR kawannya itupun ia lakukan hanya beberapa menit sebelum diserahkan ke dosen. Ada juga yg memprint apa yg ada di web  & diserahkan ke dosen saat itu juga masih panas-panas seperti menghadiai pisang goreng. Tidak ada proses belajar sama sekali. Dalam SCL diupayakan agar kegiatan itu dilakukan oleh mhs dengan menunjuk tutor sebaya yg digilir dari mereka sendiri dlm kelompok < 5 org, shg dosen lebih banyak waktu berkeliling untuk membimbing mereka sambil menjelaskan jika mereka menemui jalan buntu dlm penyelesaian tugas. Sebagai contoh, Jika hrs ada penurunan rumus dari tahap 1 sampai tahap 7, maka kunci jawaban (rumus) pada LKM dpt ditempatkan ditahap 1 ..3...5...7. Mhs di dlm kelompok mereka mengerjakan tahapan yg hilang. Maka mhs akan lebih aktif dari pada model teacher center learning. Akan lebih menarik lagi kalau mhs diajak menjelaskan aplikasi mekanika kuantum itu sehingga berkaitan dengan dunia nyata. Bimbingan jarak jauh pun di era digital masih memungkinkan dilakukan, dengan e-learning, vedio call, videoscape, email, media sosial dll