Literasi setelah literasi komputer

Literasi berasal dari bahasa Inggris yaitu literate yg merupakan lawan kata dari illiterate (buta huruf). Literasi dimaknai sebagai kemampuan manusia membaca, memahami & menkomunikasikan dan menggunakan simbol atau sumber informasi.  Pada awal peradaban manusia, dengan hanya ada kemampuan membaca, menulis dan berhitung sudah dianggap memadai dalam menjalani kehidupan. Kemudian berkembang literasi menggunakan komputer sehingga mereka yang tidak mampu menggunakan komputer dianggap kurang tingkat literasinya. Pada zaman digital ini, diperlukan 3 literasi lanjutan yaitu literasi terhadap data, literasi terhadap teknologi dan literasi memahami kharakter manusia. Literasi terhadap data (big data) di dunia digital diperlukan untuk memilah dan menggunakan data yg tersedia di web dengan hemat, mudah, cepat untuk berbagai tujuan termasuk untuk mengembangkan komoditi baru yg disukai pelanggan, mengontrol reputasi usaha yg sedang dan akan dijalankan dan sumber ilmu lainnya. Sebagai contoh, jika terdapat jutaan data di web tentang jenis penyakit, 5-10 ciri gejala yg khas dan kaitannya dengan laju kegemukan maka secara statistik dapat diperkirakan kemungkinan penyakit yang akan & sedang dideritanya dengan tingkat kesalahan yg sangat kecil dengan hanya memasukkan data laju kegemukan & gejala penyakitnya. Maka  dari sini seseorang bisa mengembangkan software khusus untuk itu, mencipta web iklan obat, membuka forum konsultasi dll. Contoh lainnya; jika dapat diketahui jutaan permintaan pada jenis bunga tertentu di web maka disitu  ada peluang bisnis. Istadz Abdul Somad direkomendasi sebagai calon wakil  presiden karena terdapat data 10 juta follower di web yg menyukainya. Sehingga pemanfaatan big data seseorang dapat memperkirakan prospek bisnis, politik, keamanan dll. Sehingga manusia yg memiliki literasi data yang baik akan dapat bersaing dengan yang lain dan menciptakan peluang bisnis. 

Pengetahuan terhadap perkembangan dan penggunaan teknologi menjadi suatu keniscayaan dalam kehidupan modern sehingga literasi teknologi juga sangat diperlukan. Sebagai contoh Hotel yg dikelola secara tradisional akan segera kehilangan pelanggan dibandingkan dengan yg hotel memiliki literasi (mampu memanfaatkan) teknologi seperti jasa layanan online & iklan yg efektif (Traveloka, trivago, booking.com). Agen penjualan kenderaan bekas akan segera berakhir usahanya tanpa pemanfaatan teknologi penjualan online (OLX).  

Literasi terhadap sifat manusia tidak kalah penting dalam interaksi sosial. Literasi ini dua sisi sekaligus yaitu kemampuan memahami kharakter orang lain dan kemampuan menyesuaikan sikap diri dengan normal sosial dan agama. Dengan mampu memahami sosial budaya orang lain maka dapat dijalin komunikasi yang efektif, dapat diketahui selera mereka dan didisain kebutuhan mereka, dan jenis potensi bisnis yg dapat dilakukan. Dari sisi diri sendiri diperlukan literasi beradaptasi dengan lingkungan yang heterogen. Terbiasa kerja dalam tim sudah menjadi keharusan, perlu kemampuan memahami perbedaan walaupun tidak harus mengorbankan norma keyakinan/keimanan. Kemampuan melakukan dan cara berkomunikasi & softskill bahkan lebih signifikan dari kepintaran. Sesungguhnya ini mirip konsep IQ, EQ dan SQ yang banyak didiskusikan. 

Literasi diharapkan dapat diterapkan dalam kurikulum di perguruan tinggi. Tugas-tugas mhs harus dapat melatih mereka memanfaatkan big data untuk analisis, prediksi, dll baik untuk IPTEK maupun bisnis. Harus ada akvitas mengikuti perkembangan teknologi pada semua program studi terutama teknologi informasi seperti mahir mengolah data, pengetahuan jaringan, kemampuan mengakses data dll.  Bagi prodi yang memang berkaitan IPTEK maka ditambah menncipta teknologi & inovasi baik untuk pengembangan ilmu maupun untuk tujuan bisnis. Kuliah formal atau ekstra kurikuler harus turut melatih literasi manusia termasuk wawasan dan pengalaman interpreneurship. Kegiatan ini bisa berupa campuran kegiatan kuliah tatap muka dengan e-learning (blender), praktikum, tugas mandiri, unjuk kinerja berkelompok, workshop, magang, kegiatan kemahasiswaan dan topik-topik khusus dalam mata kuliah pilihan. Agar aspek legalitas jelas maka harus masuk dalam visi misi serta keunggulan universitas, masuk dalam capaian kompetensi lulusan di program studi serta menjadi capaian/tujuan pembelajaran dari suatu akvitas kuliah. Waallahua'lam