Pembelajaran dalam konteks

Sebagian pendidik menyangka bahwa mata kuliah dasar ilmu murni diajarkan sebatas konsep-konsep dasar, definisi, klasifikasi dari yang mudah sampai pada yang sangat kompleks, murni semurni ilmunya tanpa perlu mengaitkan dalam konteks kehidupan masyarakat atau industri. Aplikasi konsep dasar dianggap belum saatnya dibahas karena mereka akan mempelajarinya pada mata kuliah yang lain atau nanti mereka dapatkan pada jenjang yang lebih tinggi. Diperguruan tinggi memang saatnya mempelajari konsep yg abstrak ternyata di sekolah menengah pun tdk diberikan yang konkret. Akhirnya konsep-konsep yang membosankan dengan susah payah terpaksa diterima oleh pelajar pemula. Hal ini seumpaya menyuguhkan  buah-buahan pada pelajar pemula, dan saat itu pula mereka mendapatkan buah yang asam atau pahit di antara buah-buahan yang manis. Kalaupun kita coba meyakinkan akan ada buah yang manis, maka biasanya hanya sebahagian kecil yang percaya. Kesan itu bagi mhs di awal perkuliahan, akan muncul ilmu X ternyata sangat abstrak, sukar, membosankan, tidak jelas aplikasinya apalagi ditambah sikap pengajar yg kurang mendidik, maka bagi mhs mata kuliah ini akan sangat mencekam. Sehingga mata kuliah lain yang sejenis pun dlm bidang yg sama tidak jarang mendapat kesan negatif yang sama.

Sehingga kiranya perlu pendekatan yg lebih strategis untuk memberi kesan positif, salah satunya ialah mengkaitkan konsep yang dipelajari dengan konteks kehidupan//industri. Dalam ilmu keguruan topik ini dibahas secara detail sebagai CTL (contextual learning) dengan 7 komponen mulai kontruktivisme, inkuiri sampai penilaian otentik. Namun yg disampaikan disini halnminimalis saja. 

Jika mhs berhasil termotivasi maka biasanya mereka tdk akan puas dengan konsep yg mereka terima, sehingga mereka akan mencari literatur  tambahan dengan sukarela dan antusias. Dosen juga menyadari tdk cukup waktu menyampaikan semua materi, dan tidak ada jaminan literatur yg kita miliki adalah yang mutakhir, sehingga perlu memotivasi mhs  agar antusias belajar mandiri. Inilah peran pendidik yang sebenarnya tidak sebatas sebagai pengajar. 

Kita sendiri bisa merasakan banyak konsep yang sudah kita pelajari tetapi terasa kurang bermakna. Saya mendengar sendiri seorang pakar kimia kuantum di USA mengeluh pada rekannya bahwa dia sudah mengajarkan ilmu itu selama 20 tahun, tapi dia tidak berapa tau apa gunanya. Kawannya menjawab silakan pelajari yg lain yg ada aplikasinya. Mahasiswa banyak yang tidak paham manfaat mempelajari kalkulus bahkan pelajaran geometri pun belum tentu terasa bermakna walaupun mereka dpt melakukan perhitungannya. Mungkin Mhs mendapatkan nilai A saat mempelajari fisika gelombang tapi belum tentu paham apa gunanya. Hal yg sama banyak mhs mempelajari termokimia, sosiologi, teori ekonomi dll tapi sebatas konsep-konsep yang abstrak. Hal ini diperkirakan karena mhs belajar 100% ilmu murni tidak dikaitkan dengan konteks kehidupan atau industri. Prof. Dr. Boediono mengatakan bahwa mengajar teori ekonomi sebaiknya dikaitkan dengan kasus (detik.com). Pembelajaran sifat senyawa sianida akan lebih menarik didengar dengan mengaitkan kasus "kopi sianida", konsep analisis protein dpt dikaitkan dengan "susu yg mengandung milamin". Membahas fisika gelombang dapat  diawali sekilas dengan aplikasi sonar (gelombang ultrasonik) yang digunakan untuk mendeteksi lokasi ikan, USG dll. Ilmu sosiologi terasa lebih bermakna jika diramu dengan kasus konflik sosial. Demikian juga pembelajaran geometri, sebaiknya diberikan overview penerapannya pada perhitungan panjang sisi miring pada bangunan, atau mengitung volume benda yang bentuknya tidak beraturan dll sebelum membahas secara mendetail rumus-rumus berbagai bangun ruang secara khusus. Kalkulus dapat dikaitkan laju reaksi kimia serta kegunaan lainnya dlm ilmu teknik. Belajar tata bahasa akan lebih terasa ringan dengan cara menganalisis  kesalahan penggunaan tatabahasa dalam majalah/makalah/tesis dari pada menghafal aturan-aturan penggunaan bahasa. Pembahasan aplikasi-aplikasi konsep tersebut tidak harus mendetail karena memang tidak akan cukup waktu, melainkan menjadi variasi dalam pembahasan konsep-konsep dasar yang relevan. Wallahu'alam