Universitas Entrepreneurship 

Pada keadaan ideal dan konvensional, lazimnya Universitas hanya fokus pada pengembangan ilmu dan teknologi. Pola ini diadopsi dari sistem universitas dari Negara-negara industri yang sekarang mereka sudah pula lebih dulu menyesuaikan diri. Jika tetap pada pola lama maka ilmu yang didapatkan oleh mahasiswa cenderung konseptual filosofis, ilmiah cenderung teoritis dan minim aplikasi, Sehingga seolah-olah semua mahasiswa dipersiapkan untuk melanjutkan karir sebagai ilmuan dan peneliti. Kalaupun ada sedikit ilmu terapan tetapi tidak sampai pada penciptaan komoditi apalagi pemasarannya. Konon hanya politeknik atau pendidikan vokasi yang fokus pada pasar kerja. Namun kenyataannya di Indonesia juga berbeda dengan harapan tersebut. Mereka yang lulusan vokasi pun tidak mendapat pekerjaan bahkan sebagian lulusan memilih melanjutkan ke Universitas dengan harapan peluang kerja lebih besar. Mereka yang sudah sarjana tapi menganggur banyak yang memilih melanjutkan ke tingkat magister dengan harapan lebih mungkin mendapatkan pekerjaan, sesungguhnya makin sedikit peluang kerja karena tidak banyak institusi yg mau menyediakan gaji karyawan untuk kualifikasi S2 selain universitas. Hampir semua lulusan berharap mendapat pekerjaan (sebagai karyawan) dan sangat sedikit yang berpikir menciptakan pekerjaan atau berwirausaha.

Zaman telah berubah tetapi masih banyak universitas yang lambat menyadarinya bahkan masih merasa bahwa seperti dulu yang paling benar dan perlu dipertahankan (bersifat konservatif). Di zaman digital, orang dapat belajar secara otodidak baik iptek dan maupun sosial budaya. Ego sektoral keilmuan dan sekat antar disiplin ilmu semakin tidak relevan karena permasalahan riil di dalam masyarakat bersifat kompleks dan multidisiplin. Cara berpikir anak zaman now tidak selalu runtut A-B-C…Z; melainkan bisa saja Z…CBA atau A-C-D dan sebagainya. Misalnya seseorang dapat langsung belajar teknik budidaya ikan arwarna baru kemudian mereka mempelajari zoology ikan tersebut (aplikasi dulu baru kembali ke ilmu dasar). Juga memungkinkan seseorang lebih dulu belajar aplikasi laser dan baru kemudian mempelajari konsep-konsep dasar fisika laser. Sehingga keterampilan yang dikuasai seseorang dapat disetarakan bahkan seringkali lebih dihargai dari pada sekedar gelar akademik. Dalam kurikulum KKNI Di perguruan tinggi, orang yang terampil menggunakan teknologi las dapat disetarakan dengan dosen yang bergelar minimal magister. Google dalam merekrut pekerjanya mengabaikan gelar akademik calon pekerja. Kepopuleran mengalahkan kecendikiawanan; masayarakat lebih memilih artis yang terkenal dari pada cendikiawan yang berpendidikan tinggi sebagai kepala daerah atau calon legistalif. Ini bukti bahwa pendidikan formal tidak selalu mempermudah mendapatkan pekerjaan. Itu belum lagi begitu banyak lulusan  PT yang berkerja di luar bidang ilmu  yang dia pelajari di PT. Semakin terasa segalanya mengikuti hukum ekonomi yaitu nilai barang dan jasa sangat ditentukan oleh respon pasar. 


Kemenristekdikti sudah mulai merespon perubahan ini dimulai dengan penerapan kurikulum KKNI, program e-learning, management yang menggunakan sistem daring (online), program dan hibah pengembangan inovasi (termasuk PKM), Pemberian bobot nilai yang tinggi pada jumlah lulusan yang bekerja sebagai indikator akreditasi institusi dan menstimulasi hilirisasi hasil penelitian atau sejauhmana hasil penelitian telah digunakan oleh masyarakat, serta  mendorong perubahan paradigm universitas dari hanya universitas pengajaran, menjadi universitas riset dan kemudian universitas entrepreneurship (ITB, Binus, Univ. Ciputra, Surya Univ. dll). Model ini mengikuti transformasi  MIT (Massachusette Institute Technology) yang di Amerika yang berhasil menjadi entrepreneurship university selama 16 tahun telah berhasil mendidik alumni mengembangkan 4000 perusahaan baru. Kesan dari program ini adalah mendorong universitas untuk merintis lapangan kerja bagi lulusannya, sesuatu yang tdk diprogram oleh universitas pada umumnya. Sementara lapangan kerja formal bagi alumni makin sedikit, pertumbuhan industri tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja dan formasi peneriman PNS makin kecil. Sehingga mengintegrasikan entrepreneurship dalam kurikulum menjadi suatu keharusan. Kemenristekdikti telah menyediakan program pendirian pusat kewirausahaan kampus, memberikan prioritas untuk universitas entrepreneurship, program mahasiswa wirausaha, wirausaha mandiri, pelatihan kewirausahaan dll. Hanya saja program ini  belum menjadi fokus capaian dari sebuah universitas pada umumnya, tidak terdapat dalam visi misi apalagi aktivitas yang terfokus pada pencapaiannya. Sebagai tindak lanjut dari paradikma baru ini mungkin ketersediaan matakuliah kewirausahaan (2SKS) apalagi kalau yang diajarkan hanya teori saja dan tidak pula diwajibkan mungkin sudah tidak cukup lagi. Perlu diintegrasikan fasilitas yang sudah ada seperti inkubator bisnis, technopreneurship, kuliah kewirausahaan, pusat karir, pengelolaan PKM, start-up (wirausaha kecil yang baru tumbuh atau pemula beroperasi melalui website) menjadi pusat pengembangan inovasi kewirausahaan yang dikelola dengan baik dengan jobsdesc yang terukur. Kegiatan mahasiswa di pusat ini mungkin dapat menjadi pembinaan jiwa kewirausahaan dan program alternatif untuk diikuti yang setara mata kuliah KKN  atau mata kuliah lainnya.  Merujuk pada program kerja ITB ternyata salah satu indikator keberhasilan universitas intreprenurship adalah memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk berwirausaha. Bahkan inovasi kewirausahaan sudah menjadi mata kuliah minor bagi mahasiswa di beberapa universitas di RRC; mereka bukan belajar teori saja melainkan menghasilkan output dalam bentuk produk/jasa yang inovatif yang telah promosikan.  Mungkin tidak perlu menunggu hingga status berubah menjadi unversitas intreprenurship, progam serupa dapat saja dilakukan dengan status yang ada.Sebagai contoh Universitas Tengku Umar (UTU) yang baru berdiri telah menginisiasi kegiatan serupa walaupun baru pada tahap penyediaan hibah bersaing inovasi kewirausahaan;https://ristekdikti.go.id/utu-awards-kembali-digelar-total-hadiah-2295-juta-serta-studi-ke-luar-nege... .    Wallahua'alam, 

Adlim